30 Juli, tanggal yang paling dibencinya datang juga. Satu tahun sudah sejak masalah ini dimulai, dan tak akan ada akhir yang baghagia untuknya. Kakaknya sudah pergi meninggalkanya dan tak akan kembali. Sakit karena tak mampu berjalan sendiri tanpa orang yang disayangi. Bagaikan seekor anjing yang dibuang dipinggir jalan, begitulah hidupnya sekarang, kosong tanpa tujuan.
Malam itu Rico memandang kelangit, memejamkan matanya, dan seketika ia berada di depan rumah mereka setahun yang lalu. Ia melihat dirinya sendiri dan kakaknya, namun keduanya seakan tidak dapat melihatnya.
Malam itu takkan pernah dilupakannya. Satu tahun terasa hanya seperti kemarin, dia masih bisa merasakan dekapan kakaknya yang memeluknya sambil menangis..
"Sudah dek, selamat tinggal.."
Jika waktu bisa diputar, Rico berharap tak akan pernah melepaskan tangan kakaknya. Dan sekarang, dengan sayap yang terbentang lebar ke langit, ia melayangkan dirinya ke udara dan menjatuhkannya ke tanah. Darah mengalir dari hidungnya, namun tak ada sesuatu yg lain dirasakannya. Taringnya pun ditancapkan ke lengannya dan darah mengalir dari nadinya, namun luka itu seperti hal yang biasa-biasa saja.
3 tahun dia tidak bisa terlelap disaat malam, dan sekarang ia tidak bisa merasakan rasa sakit sedikitpun. Dulu silet bisa membantunya untuk mengalihkan beban mental menjadi rasa sakit fisik, namun sekarang ia sudah tidak bisa lagi merasakan apa-apa. Terbawa emosi dan memaki-maki dirinya sendiri, menjadi melankolis dan melakukan masokisme, ia sadar bahwa satu tahun terakhir sudah merubahnya menjadi seseorang yang ia tidak kenal..
Tak sanggup lagi menjalani hidup dibawah kutukan. Dia hanya berharap kakaknya kembali dan menolongnya melepaskan belenggu ini.
"Even your sorry won't heal the wound. But your presence will make me feel better.."