Masih mengenggam tangan adiknya yang tak mengeluarkan sepatah kata pun sepanjang perjalanan, Vivi teringat akan kejadian setahun yang lalu. Selesai acara gladi resik pengangkatan Sidi, hanya tiga orang yang masih berada di halaman gereja. Waktu itu sudah larut malam, dan orang-orang sudah pulang. Hanya ada Fanny, sahabat Vivi yang menemaninya mendengarkan curahan hati adiknya..
"Kamu terlalu berlebihan." ungkap Vivi.
Terduduk di lantai sambai bersandar ke dinding, Rico menunduk, tidak mau memandang kakaknya. Tangan kirinya yang dipenuhi luka sayatan silet ia gunakan untuk menyeka air matanya.
"Berlebihan, huh?", Ia tertawa kecil. "Kemana kakak saat aku butuhkan?"
Rico bangun dari duduknya. Memandang kearah bulan purnama yang menyinari halaman gereja tempat mereka berada.
"Kakak berjanji menyempatkan diri mendengarkan aku sepulang kakak dari Bandung. Dari bulan desember sampai hampir desember lagi sudah ku tunggu. Apa kakak ingat janji kakak itu?"
Vivi hanya terdiam..
"Lalu beberapa bulan yang lalu. Kakak meninggalkanku selama sebulan karena kakak mengikuti bimbingan belajar ujian saringan masuk STAN di Bintaro. Tahukah kakak betapa depresinya aku saat itu? Betapa aku membutuhkan kakak?"
Vivi hendak menjawab pertanyaan tersebut, namun baru ia membuka mulutnya, Rico sudah memotong..
"Tak perlu kakak jawab. Ingat saat aku menyusul kakak ke Bintaro? Dalam benak ku sudah ada ribuan, tidak, jutaan hal yang ingin aku ceritakan ke kakak."
"Namun apa yang terjadi? Bukannya mendengarkan aku, kakak malah meninggalkan aku sendirian di kampus STAN. Padahal aku sangat berharap kakak bisa meluangkan sedikit saja waktu.."
Vivi terdiam. Fanny merangkulnya, mencoba membuatnya sedikit lebih tenang..
"Banyak hal yang ingin aku keluhkan, tapi aku akan capek sendiri jika semuanya ku ceritakan. Asal kakak tau, aku kuliah di STAN cuma untuk buat kakak bangga. Kakak tidak berhasil masuk STAN, walaupun sudah meninggalkan aku dalam kesendirian sebulan penuh, namun aku yang hanya bermodal harapan agar bisa kuliah di tempat yang sama dengan kakak bisa menembus ujian saringan masuknya, walaupun akhirnya kecewa karena kakak tidak bisa menemaniku disini."
"Kakak mungkin bisa makan dengan enak, tidur dengan tenang, dan kuliah dengan nyaman di UI tanpa memikirkan aku yang tidak bisa makan, tidak bisa tidur, tidak bisa kuliah dengan nyaman sampai terancam Drop Out karena memikirkan kakak. Apakah kakak tahu bahwa sejak kakak meninggalkanku tanggal 30 Juli kemarin, aku tidak bisa tidur tiap malam?"
"Kamu terlalu berlebihan! Tanpa aku hidupmu pun berjalan dengan lancar, malah kamu bisa masuk STAN. Kamu terlalu angkuh untuk mengatakan hidupmu berantakan!"
Vivi berteriak kepada Rico lalu berpaling dan berjalan meninggalkannya.
"Kakak jahat. Aku cuma perlu perhatian kakak, sedikit saja. Tidak tahukah bahwa kakak meninggalkanku seperti..... SEPERTI INI!!!"
Suasana mendadak hening. Vivi menoleh kebelakang, namun Rico sudah tidak ada disana. Tiba-tiba Fanny berteriak, dan Vivi tidak dapat mempercayai apa yang dilihat kedua matanya ketika ia berpaling.
Wuzzz...wuzzzz...wuzzz... bunyi kepakan sepasang sayap kelelawar besar yang mengangkat badan Rico melayang diatas tanah. Tangannya terkulai kebawah, dengan kuku-kuku panjang dan tajam terpasang di tiap jarinya. Rambutnya putih metah seperti serigala salju, kepalanya tertunduk. Ekor panjang berbulu putih terkulai dibelakangnya, sementara kedua telinganya terlihat memanjang. Perawakannya tampak seperti seekor serigala bersayap kelelawar yang mengenakan almamater STAN. Dia terlihat tidak sadarkan diri, badannya terkulai lemas, namun sepasang sayap kelelawar di punggungnya terus mengepak..
Vivi hanya terdiam. Fanny mencoba menariknya menjauhi mahluk itu, namun Vivi tidak mau bergerak.
Mahluk itu mengangkat kepalanya dan membuka matanya. Mukanya sangat pucat, dan darah mengalir dari sepasang mata yang serupa dengan mata serigala bak sedang menangis.
"Vivi, ayo lari..!!"
Fanny berusaha menariknya, tapi Vivi menolak untuk pergi.
"Kak Fanny, aku bisa dengar suara Rico memanggil-manggil namaku! Dia bilang dia kesakitan. Kita harus menolongnya!"
Mahluk itu hanya diam dan menatap Vivi dengan tajam. Hanya sayapnya saja yang bergerak, menjaga badannya tetap berada satu meter diatas tanah.
Di dalam kepalanya, Vivi mendengar suara adiknya dengan jelas. Suarnya seperti ada puluhan Rico berteriak-teriak "sakit!" dan "Kakak, tolong aku!". Suara itu terus menerus berbunyi di dalam kepala Vivi, membuatnya panik dan bingung akan apa yang harus diakukannya.
Mahluk itu tiba-tiba menggeram dan meronta, memperlihatkan taring-taring tajam di dalam mulutnya. Secara cepat Fanny menarik Vivi yang berada terlalu dekat dengan mahluk itu. Namun Vivi memberontak dan melepaskan tangannya.
"Kak Fanny lepaskan aku, aku harus menolong Rico!"
Vivi berlari kearah mahluk itu dan tanpa pikir panjang memegang kepalanya. Seketika itu juga mahluk itu kembali tenang.
"Kakak disini. Tenang dik, kakak disini untukmu.."
Vivi mulai membelai rambut mahluk itu, dan terlihat ekornya bergoyang-goyang seperti seekor anjing yang sedang senang. Kibasan sayap mahluk itu melambat dan perlahan-lahan badannya turun ke bawah.
"Ka.. kakak masih sayang kepadaku kan?"
Vivi tersenyum dan kembali membelai Rico yang terbaring. Nafas Rico yang tersengal-sengal perlahan melambat, dan akhirnya Rico terlelap di pangkuan kakaknya.
Setahun yang lalu merupakan awal dari kehidupan mereka yag tidak biasa. Namun semuanya bisa dijawab dengan satu jawaban, yaitu karena sang kakak adalah kepunyaan Rico yang paling berharga, sampai-sampai ia rela menjual jiwanya hanya untuk kakaknya..
Influenced by melodramatic lyrics and stories. What we can tell happened between conscious life and the deep sleep. Sebuah cerita yang terngiang di tengah kesunyian malam. Hanya fantasi dari hati yang kesepian, fiksi yang tercipta dalam kesendirian..
Senin, 18 Oktober 2010
Minggu, 17 Oktober 2010
Pulang Kak, Pulang. Jangan Rusak Kakakku..
Duduk di bangku taman, keduanya terlihat malu-malu. Malam itu sepi sekali, tak ada satu pun orang melintas. Gedung kosong dibelakang tempat duduk mereka masih tegap berdiri, meskipun telah lama ditinggalkan. Lampu taman yang menerangi mereka pun masih bersinar terang walaupun sudah tua. Kota tua yang begitu indah bagi sepasang muda-mudi.
Satu persatu kendaraan yang melintas tidak dihiraukan mereka. Candaan demi candaan mereka nikmati, tawa demi tawa mereka lalui. Dunia serasa milik berdua saja, sementara waktu terus berputar. Tak selang beberapa lama mata mereka bertemu. Sang lelaki mengusap pipi sang gadis, secara perlahan wajahnya mendekat. Sang gadis berusaha mengelak, tetapi tangannya digenggam erat oleh sang lelaki. Matanya ditatapnya dalam-dalam, dan lagi-lagi sang lelaki mendekat dan semakin mendekati bibirnya. Keduanya memejamkan matanya..
PRAAANNKKK....!!!!
Keduanya berdiri dan menoleh kebelakang. Pecahan kaca berserakan dibawah, dan seorang lelaki dengan tangan yang berlumuran darah terbaring diatasnya. Lelaki itu baru saja melompat dari dalam jendela lantai dua gedung tua itu. Sambil menahan sakit lelaki yg berlumuran darah itu mencoba berdiri.
"Kak... Kakak.. pu...pulang kak. Kasihan Opung sendirian dirumah.."
Sweater dan celana jeans hitam yang dikenakannya basah oleh darah. Sambil menahan sakit dia berdiri, matanya menatap tajam lelaki yang bersama kakaknya itu. Dia tersenyum, walaupun darah mengalir dari mulutnya.
"Tolong jangan rusak kakakku..!!"
Tangannya gemetar. Dia berteriak saat kuku-kuku dan taring-taringnya memanjang. Rambutnya yang hitam berubah warna menjadi putih. Dapat dipastikan dia merasa kesakitan saat perubahan itu terjadi pada dirinya. Saat itu juga sang gadis bergegas lari dan memeluk adiknya.
"Tenang, tidak apa-apa. Kakak disini, kakak baik-baik saja, dik."
Sang adik pun lemas dan jatuh berlutut. Nafasnya masih tersengal-sengal. Perlahan kondisi fisiknya kembali normal. Sang kakak masih memeluk adiknya dan berbisik di telinganya..
"Tenang, kakak disini.. Semua akan baik-baik saja.."
Sang kakak membantu adiknya berdiri. Sambil memegang tangan adiknya, dia memandang kearah sang lelaki yang kebingungan akan kegilaan yang sedang terjadi. Sang kakak mengatakan bahwa dia harus pulang sekarang, dan sang lelaki pun mengangguk. Masih menggenggam tangan adiknya, sang kakak berjalan menuntun sang adik pulang. Saat mereka melintas didepan lelaki itu, sambil berjalan sang adik menggeram kearahnya. Kebenciannya membuat dirinnya kembali tak stabil, namun sang kakak langsung mengusap kepalanya dan menenangkannya..
"Sudah, sudah.. Tak apa. Ayo jalan terus.."
Mereka berjalan meninggalkan sang lelaki sendirian, ketakutan..
Walaupun secara fisik dia besar, namun pikirannya masih labil dan seperti anak kecil. Vivi menggenggam tangan adiknya, yang telah menyelamatkan keperawanan bibirnya dari seorang lelaki..
Satu persatu kendaraan yang melintas tidak dihiraukan mereka. Candaan demi candaan mereka nikmati, tawa demi tawa mereka lalui. Dunia serasa milik berdua saja, sementara waktu terus berputar. Tak selang beberapa lama mata mereka bertemu. Sang lelaki mengusap pipi sang gadis, secara perlahan wajahnya mendekat. Sang gadis berusaha mengelak, tetapi tangannya digenggam erat oleh sang lelaki. Matanya ditatapnya dalam-dalam, dan lagi-lagi sang lelaki mendekat dan semakin mendekati bibirnya. Keduanya memejamkan matanya..
PRAAANNKKK....!!!!
Keduanya berdiri dan menoleh kebelakang. Pecahan kaca berserakan dibawah, dan seorang lelaki dengan tangan yang berlumuran darah terbaring diatasnya. Lelaki itu baru saja melompat dari dalam jendela lantai dua gedung tua itu. Sambil menahan sakit lelaki yg berlumuran darah itu mencoba berdiri.
"Kak... Kakak.. pu...pulang kak. Kasihan Opung sendirian dirumah.."
Sweater dan celana jeans hitam yang dikenakannya basah oleh darah. Sambil menahan sakit dia berdiri, matanya menatap tajam lelaki yang bersama kakaknya itu. Dia tersenyum, walaupun darah mengalir dari mulutnya.
"Tolong jangan rusak kakakku..!!"
Tangannya gemetar. Dia berteriak saat kuku-kuku dan taring-taringnya memanjang. Rambutnya yang hitam berubah warna menjadi putih. Dapat dipastikan dia merasa kesakitan saat perubahan itu terjadi pada dirinya. Saat itu juga sang gadis bergegas lari dan memeluk adiknya.
"Tenang, tidak apa-apa. Kakak disini, kakak baik-baik saja, dik."
Sang adik pun lemas dan jatuh berlutut. Nafasnya masih tersengal-sengal. Perlahan kondisi fisiknya kembali normal. Sang kakak masih memeluk adiknya dan berbisik di telinganya..
"Tenang, kakak disini.. Semua akan baik-baik saja.."
Sang kakak membantu adiknya berdiri. Sambil memegang tangan adiknya, dia memandang kearah sang lelaki yang kebingungan akan kegilaan yang sedang terjadi. Sang kakak mengatakan bahwa dia harus pulang sekarang, dan sang lelaki pun mengangguk. Masih menggenggam tangan adiknya, sang kakak berjalan menuntun sang adik pulang. Saat mereka melintas didepan lelaki itu, sambil berjalan sang adik menggeram kearahnya. Kebenciannya membuat dirinnya kembali tak stabil, namun sang kakak langsung mengusap kepalanya dan menenangkannya..
"Sudah, sudah.. Tak apa. Ayo jalan terus.."
Mereka berjalan meninggalkan sang lelaki sendirian, ketakutan..
Walaupun secara fisik dia besar, namun pikirannya masih labil dan seperti anak kecil. Vivi menggenggam tangan adiknya, yang telah menyelamatkan keperawanan bibirnya dari seorang lelaki..
Langganan:
Komentar (Atom)