Duduk di bangku taman, keduanya terlihat malu-malu. Malam itu sepi sekali, tak ada satu pun orang melintas. Gedung kosong dibelakang tempat duduk mereka masih tegap berdiri, meskipun telah lama ditinggalkan. Lampu taman yang menerangi mereka pun masih bersinar terang walaupun sudah tua. Kota tua yang begitu indah bagi sepasang muda-mudi.
Satu persatu kendaraan yang melintas tidak dihiraukan mereka. Candaan demi candaan mereka nikmati, tawa demi tawa mereka lalui. Dunia serasa milik berdua saja, sementara waktu terus berputar. Tak selang beberapa lama mata mereka bertemu. Sang lelaki mengusap pipi sang gadis, secara perlahan wajahnya mendekat. Sang gadis berusaha mengelak, tetapi tangannya digenggam erat oleh sang lelaki. Matanya ditatapnya dalam-dalam, dan lagi-lagi sang lelaki mendekat dan semakin mendekati bibirnya. Keduanya memejamkan matanya..
PRAAANNKKK....!!!!
Keduanya berdiri dan menoleh kebelakang. Pecahan kaca berserakan dibawah, dan seorang lelaki dengan tangan yang berlumuran darah terbaring diatasnya. Lelaki itu baru saja melompat dari dalam jendela lantai dua gedung tua itu. Sambil menahan sakit lelaki yg berlumuran darah itu mencoba berdiri.
"Kak... Kakak.. pu...pulang kak. Kasihan Opung sendirian dirumah.."
Sweater dan celana jeans hitam yang dikenakannya basah oleh darah. Sambil menahan sakit dia berdiri, matanya menatap tajam lelaki yang bersama kakaknya itu. Dia tersenyum, walaupun darah mengalir dari mulutnya.
"Tolong jangan rusak kakakku..!!"
Tangannya gemetar. Dia berteriak saat kuku-kuku dan taring-taringnya memanjang. Rambutnya yang hitam berubah warna menjadi putih. Dapat dipastikan dia merasa kesakitan saat perubahan itu terjadi pada dirinya. Saat itu juga sang gadis bergegas lari dan memeluk adiknya.
"Tenang, tidak apa-apa. Kakak disini, kakak baik-baik saja, dik."
Sang adik pun lemas dan jatuh berlutut. Nafasnya masih tersengal-sengal. Perlahan kondisi fisiknya kembali normal. Sang kakak masih memeluk adiknya dan berbisik di telinganya..
"Tenang, kakak disini.. Semua akan baik-baik saja.."
Sang kakak membantu adiknya berdiri. Sambil memegang tangan adiknya, dia memandang kearah sang lelaki yang kebingungan akan kegilaan yang sedang terjadi. Sang kakak mengatakan bahwa dia harus pulang sekarang, dan sang lelaki pun mengangguk. Masih menggenggam tangan adiknya, sang kakak berjalan menuntun sang adik pulang. Saat mereka melintas didepan lelaki itu, sambil berjalan sang adik menggeram kearahnya. Kebenciannya membuat dirinnya kembali tak stabil, namun sang kakak langsung mengusap kepalanya dan menenangkannya..
"Sudah, sudah.. Tak apa. Ayo jalan terus.."
Mereka berjalan meninggalkan sang lelaki sendirian, ketakutan..
Walaupun secara fisik dia besar, namun pikirannya masih labil dan seperti anak kecil. Vivi menggenggam tangan adiknya, yang telah menyelamatkan keperawanan bibirnya dari seorang lelaki..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar