Pagi yang indah di akhir pekan. Angin sepoy-sepoy masuk ke dalam rumah melalui pintu dan jendela yang dibiarkan terbuka. Berbaring di sofa ruang tamu hari itu, Rico memandang kearah kakaknya yang sedang sibuk memperbaiki almamaternya yang terkoyak. Almamater biru tua Sekolah Tinggi Akuntansi Negara itu dijahit kakaknya dengan tangan. Dengan benang berwarna biru gelap Vivi menjahit dan menambal bagian punggung almamater tersebut yang terkoyak cukup besar karena sayap kelelawar yang muncul secara paksa di punggung adiknya.
Vivi menyeka keringat di wajahnya. Menjahit almamater dengan tangan bukanlah hal yang mudah, sayangnya mereka tidak memiliki mesin jahit untuk mempermudah pekerjaannya.
"Senyam-senyum saja, lain kali jahit sendiri ya.." kata Vivi kepada adiknya.
Tak ada TV yang menyala, musik yang mengiring, maupun handphone yang berbunyi. Semua barang-barang elektronik sengaja dimatikan Rico agar tidak menganggunya menikmati kicauan burung dan suara pohon-pohon rindang yang dihembuskan angin. Kipas angin pun tak boleh dinyalakan sehingga membuat Vivi gerah dan kepanasan.
Sambil berbaring dalam posisi terlentang, Rico mengangkat tangannya ke langit-langit, seperti hendak menggapai sesuatu yang tidak kelihatan.
"Kakak.."
"Iya", Vivi menjawab namun tetap terfokus pada pekerjaannya.
"Maaf ya kak aku gagal di UTS Akuntansi. Aku sudah mengerjakannya semampuku, tapi saat aku mengerjakan Trial Balance hasilnya tidak seimbang, dan aku butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk mencari salahnya dimana. Alhasil aku cuma bisa mengerjakan sampai worksheet; itu pun tidak selesai, sementara Closing Entry dan Closing Trial Balance tidak sempat ku kerjakan.
Maaf kak aku tidak bisa memberi yang terbaik."
Vivi terdiam, tangannya berhenti bekerja. Dia menatap adiknya sambil tersenyum..
"Tidak apa-apa. Kakak juga tidak bisa sepenuhnya mengerjakan UAS, dan ada rasa penyesalan juga tidak mempersiapkan diri dengan maksimal. Tidak perlu minta maaf kepada kakak, minta maaf lah kepada dirimu sendiri."
Rico memandang kearah kakaknya yang kembali melanjutkan pekerjaannya. Kemudian ia bangun dan duduk bersender di tiang pintu, memandang kearah luar. Selang beberapa lama ia bosan dan mengambil gitar, lalu duduk di tempat yang sama. Kembali ia melihat kepada kakak terbaik di dunia yang sedang menjahit almamaternya. Tangannya mulai memainkan gitarnya, dan bernyanyi:
Wind Cries that we're blessed
As I stepped up into the haze
Remember to let go of the vain
I promise I won't let you down again
Laughter covered all misery
As I wake up from serenity
Smile so sweet, hand so tender
Thank you for fixing my broken wing
With your wings of faith
I shall never be hesitate
Take my step bravely with no regrets
With your hands guiding me
I will broaden my horizon
Flying through daybreak of destiny
As time passes by
Memories fell so sad when we cry
Tears were flowing down straight like the rain
I promise I won't let you down again
Like a flower in full blossom
My trust in you is the reason
Smile so sweet, hand so tender
Well, thanks for fixing my broken wings
With your wings of faith
I shall never be hesitate
Take my step bravely with no regrets
With your hands guiding me
I will broaden my horizon
Flying through daybreak of destinyHonestly tearing me deep inside
I can't believe nearly waste her tears
Why did I do such a fatal flaw
Sister, forgive me for disobeying dignity
Sebuah lagu yang ditulis Rico tentang kakaknya, dimana ia mengekspresikan rasa bangga akan kakaknya di lagu ini. Lagu ini sudah digarap oleh bandnya semasa SMA, namun untuk suatu alasan Rico mengundurkan diri dari band ini. Lagu ini selalu dikenangnya, karena mengingatkannya kepada memori bersama kakaknya semasa di bangku sekolah dulu.
Lagu ini dapat didengar di http://www.myspace.com/silencerpunk
Tidak ada komentar:
Posting Komentar